Kamis, 06 Juni 2013

Tugas Pendidikan dari Kelompok 12 Hasil Observasi SMP HARAPAN 1 MEDAN




A.  IDENTITAS SEKOLAH
·      Nama Sekolah               : SMP Harapan 1 Medan
·      Alamat Sekolah             : Jalan Imam Bonjol
·      Uang Sekolah                : Rp.800.000,-
·      Konsep E-learning         : Teacher Learning Center
B.  URAIAN AKTIVITAS OBSERVASI
·      Hari Pelaksanaan           : Selasa
·      Waktu Pelaksanaan       : 4 Juni 2013
·      Pembagian Tugas           : Satu Kelompok dibagi dua regu
·      Narasumber                   : -

C.  LAPORAN HASIL OBSERVASI
I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang

E-learning merupakan proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dalam hal ini memanfaatkan media online seperti internet sebagai metode penyampaian, interaksi dan fasilitasi. Di dalamnya terdapat dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan. Selain itu juga tersedia rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh tiap peserta belajar, dan terdapat sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta belajar. Penerapan e-learning di Indonesia semakin pesat, baik untuk bidang keilmuan yang umum ataupun untuk keilmuan yang khusus yang terdapat pada dunia perguruan tinggi. Dan dengan seiring perkembangan yang terjadi, e-learning bukan saja terbatas sebagai media untuk berbagi sumber atau bahan pengajaran, tetapi juga media untuk berbagi tugas, baik tugas individual maupun tugas kelompok.



II
LANDASAN TEORI

1.    E-LEARNING

Sistem pembelajaran elektronik atau e-pembelajaran adalah cara baru dalam proses belajar mengajar. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan.
Berikut pengertian e-learning menurut para ahli :
1.    E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain [Hartley, 2001].
2.    E-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer, maupun komputer standalone [LearnFrame.Com, 2001].
3.    Jaya Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan e-learning sebagai sembarang Pe-ngajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN,atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan.
4.    Ong (dalam Kamarga, 2002)mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.


2.    TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN
a.       Revolusi Teknologi
Revolusi teknologi adalah bagian dari masyarakat informasi dimana kita kini hidup. Orang menggunakan komputer, bolpoin, surat, dan telepon untuk berkomunikasi. Masyarakat informasi baru masih mengandalkan beberapa keahlian nonteknologi mendasar, seperti: keterampilan berkomunikasi, kemampuan memecahkan masalah, berpikir mendalam, berpikir kreatif, dan bersikap positif. Akan tetapi, di dunia yang kini berorientasi teknologi, kompetensi orang makin ditantang dan diperluas dengan cepat (Bitter & Pierson, 2002; Collis 7 Sakamoto, 1996; Nickerson, 2000).
Teknologi telah menjadi bagian dari sekolah selama beberapa dekade, tetapi teknologi masih dipakai secara sederhana dan berubah dengan lamban. Namun, kini teknologi berubah secara dramatis.
·         Internet adalah inti dari komunikasi melalui komputer. Sistem internet berisi ribuan jaringan komputer yang tergantung di seluruh dunia, menyediakan informasi yang tak terhingga yang dapat diakses murid. Dalam banyak kasus, internet lebih banyak menyediakan informasi dibandingkan dengan buku teks.
·         World Wide Web (WWW) adalah sistem pengambilan informasi hypermedia yang menghubungkan berbagai materi internet; materi ini mencakup teks dan grafis. Web memberi struktur yang dibutuhkan Internet. Website adalah lokasi individu atau organisasi di Internet. Website menampilkan informasi yang dimasukkan oleh individu atau organisasi. E-mail adalah singkatan dari electronic mail dan merupakan bagian penting lain dari internet. Pesan dapat diterima dari individu atau dari banyak individu sekaligus.

b.      Masa Depan: Komputer di Mana-mana
Perhitungan pada awalnya dilakukan dengan komputer besar, yang dipakai bersama-sama oleh banyak orang (Bitter & Pierson, 2002). Beberapa pakar komputer percaya bahwa generasi komputer berikutnya—generasi ketiga—akan berupa ubiquitous computing, yang menekankan pada distribusi komputer ke lingkungan, ketimbang ke personal. Dalam lingkungan ini, teknologi akan menjadi latar belakang (Weiser, 2001). Ringkasnya, ubiquitous computing akan berupa dunia pasca-PC.
Ubiquitous adalah kebalikan dari realitas virtual. Jika realitas virtual menempatkan orang didalam dunia yang diciptakan komputer, ubiquitous computing akan memaksa komputer eksis di dunia manusia.

3.    TEACHER LEARNED-CENTERED
a.       Perencanaan Pelajaran Teacher-Centered
Tiga alat umum di sekolah yang berguna dalam perencanaan teacher-centered adalah menciptakan sasaran behavioral (perilaku), menganalisis tugas, dan menyusun taksonomi (klasifikasi) instruksional.
1.    Menciptakan Sasaran Behavioral. Sasaran behavioral (behavioral objectives) adalah pernyataan tentang perubahan yang diharapkan oleh guru akan terjadi dalam kinerja murid. Menurut Robert Mager (1962), sasaran behavioral harus spesifik. Mager percaya bahwa sasaran behvioral harus mengandung tiga bagian:
·         Perilaku murid. Fokus pada apa yang akan dipelajari atau dilakukan murid.
·         Kondisi di mana perilaku terjadi. Menyatakan bagaimana perilaku akan di evaluasi atau dites.
·         Kriteria kinerja. Menentukan level kinerja yang dapat diterima
Misalnya, guru mungkin menyusun sasaran behavioral berdasar gagasan bahwa murid akan mendeskripsikan lima sebab melemahnya Kekaisaran Inggris (perilaku murid). Guru berencana untuk memberi murid tes esai tentang topik ini. Dan, guru menentukan bahwa jika murid bisa menjelaskan empat atau lima sebab, maka ia sudah memenuhi kriteria kinerja.
2.    Menganalisis Tugas. Alat lain dalam perencanaan teacher-centered adalah analisis tugas, yang difokuskan pada pemecahan suatu tugas kompleks yang dipelajari murid menjadi komponen-komponen (Alberto & Troutman, 1999). Analisis ini dapat melalui tiga langkah dasar (Moyer & Dardig, 1978):
·         Menentukan keahlian atau konsep yang diperlukan murid untuk mempelajari tugas.
·         Mendaftar materi yang dibutuhkan untuk melakukan tugas, seperti kertas, pensil, kalkulator.
·         Mendaftar semua komponen tugas yang harus dilakukan.
3.    Menyusun Taksonomi Instruksional. Taksonomi instruksional juga membantu pendekatan teacher-centered. Taksonomi adalah sistem klasifikasi. Taksonomi Bloom dikembangkan oleh Benjamin Bloom, dkk (1956). Taksonomi ini mengklasifikasikan sasaran pendidikan menjadi tiga domain: kognitif, afektif, dan psikomotor.
Domain kognitif. Taksonomi kognitif Bloom mengandung enam sasaran
·         Pengetahuan. Murid punya kemampuan untuk mengingat informasi.
·         Pemahaman. Murid memahami informasi dan dapat menerangkannya dengan menggunakan kalimat mereka sendiri.
·         Aplikasi. Murid menggunakan pengetahuan untuk memecahkan problem kehidupan nyata.
·         Sintesis. Murid mengombinasikan elemen-elemen dan menciptakan informasi baru.
·         Evaluasi. Murid membuat penilaian dan keputusan yang baik.
Domain afektif. Taksonomi afektif terdiri dari lima sasaran yang berhubungan dengan respons emosional terhadap tugas (Krathwohl, Bloom, & Masia, 1964). Masing-masing dari lima sasaran itu mensyaratkan agar murid menunjukkan tingkat komitmen atau intensitas emosional tertentu:
·         Penerimaan. Murid mengetahui atau memerhatikan sesuatu di lingkungan.
·         Respons. Murid termotivasi untuk belajar dan menunjukkan perilaku baru sebagai hasil dari pengalamannya.
·         Menghargai. Murid terlibat atau berkomitmen pada beberapa pengalaman.
·         Pengorganisasian. Murid mengintegrasikan nilai baru ke perangkat nilai yang sudah ada dan memberi prioritas yang tepat.
·         Menghargai karakterisasi. Murid bertindak sesuai dengan nilai tersebut dan berkomitmennya kepada nilai tersebut.
Domain psikomotor. Kebanyakan dari kita menghubungkan aktivitas motor dengan pendidikan fisik dan atletik, tetapi banyak subjek lain, seperti menulis dengan tangan dan pengolahan kata, juga membutuhkan gerakan. Dalam sains, murid harus menggunakan peralatan yang kompleks; seni visual dan pahat membutuhkan koordinasi mata dan tangan. Sasaran psikomotor menurut Bloom adalah:
·         Gerak refleks. Murid merespons suatu stimulus secara refleks tanpa perlu banyak berpikir.
·         Gerak fundamental dasar. Murid melakukan dasar untuk tujuan tertentu.
·         Kemampuan perseptual. Murid menggunakan indra, seperti penglihatan, pendengaran, atau sentuhan, untuk melakukan sesuatu.
·         Kemampuan fisik. Murid mengembangkan daya tahan, kekuatan, fleksibilitas, dan kegesitan.
·         Gerakan tertarik. Murid melakukan keterampilan fisik yang kmpleks dengan lancar.
·         Perilaku nondiskusif. Murid mengomunikasikan perasaan dan emosinya melalui gerak tubuh.


4.    MANAJEMEN KELAS
a.       Pengertian Manajemen Kelas
Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata “Management”. Karena, terbawa oleh derasnya arus penambahan kata pungut kedalam Bahasa Indonesia, maka istilah Inggris tersebut kemudian di Indonesia menjadi “Manajemen”. Arti dari Manajemen adalah pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan/sasaran yang diinginkan. Maka, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan/manajemen adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif, dan efisien.
Sedangkan kelas menurut pengertian umum dapat dibedakan atas dua pandangan, yaitu pandangan dari segi fisik dan pandangan dari segi siswa. Disamping itu, Hadari Nawawi juga memandang kelas dari dua sudut, yakni:
·         Kelas dalam arti sempit: ruangan yang dibatas oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar.
·         Kelas dalam arti luas: suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.
Jadi, DR. Hadari Nabawi berpendapat bahwa Manajemen Kelas diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah, sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.

b.      Tujuan Manajemen Kelas
Tujuan manajemen kelas pada hakikatnya telah terkandun dalam tujuan pendidikan, baik secara umum maupun khusus. Adapun tujuan dari manajemen kelas adalah:
·         Agar pengajaran dapat dilakukan secara maksimal, sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
·         Untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya.
·         Untuk memberi kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting untuk dibicarakan dikelas demi perbaikan pengajaran pada masa mendatang.
            Jadi, manajemen kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi didalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan tujuan manajemen kelas secara khusus dibagi menjadi dua yaitu tujuan untuk siswa dan guru.
Tujuan untuk siswa:
·         Mendorong siswa untuk mengembangkan tanggung-jawab individu terhadap tingkah lakunya dan kebutuhan untuk mengontrol diri sendiri.
·         Membantu siswa untuk mengetahui tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan dan bukan kemarahan.
·         Membangkitkan rasa tanggung-jawab untuk melibatkan diri dalam tugas maupun pada kegiatan yang diadakan.
            Maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pada manajemen kelas adalah setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib, sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
Tujuan untuk guru:
·         Untuk mengembangkan pemahaman dalam penyajian pelajaran dengan pembukaan yang lancar dan kecepatan yang tepat.
·         Untuk dapat menyadari akan kebutuhan siswa dan memiliki kemampuan dalam memberi petunjuk secara jelas kepada siswa.
·         Untuk mempelajari bagaimana merespon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang mengganggu.
·         Untuk memiliki strategi remedial yang lebih komprehensif yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang muncul didalam kelas.
            Maka dapat disimpulkan bahwa agar setiap guru mampu menguasai kelas dengan menggunakan berbagai macam pendekatan dengan menyesuaikan permasalahan yang ada, sehingga tercipta suasana yang kondusif, efektif dan efisien.

c.       Mendesain Lingkungan Fisik Kelas
Prinsip penataan kelas
Berikut ini empat prinsip dasar yang dapat dipakai untuk menata kelas (Everton, Emmer, & Worsham, 2003):
·         Kurangi kepadatan ditempat lalu-lalang.
·         Pastikan bahwa Anda dapat dengan mudah melihat semua murid.
·         Materi pengajaran dan perlengkapan murid harus mudah diakses.
·         Pastikan murid dapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas.

Gaya Penataan
·         Gaya auditorium tradisional
Penataan ini membatasi kontak murid tatap muka dan guru bebas bergerak kemana saja. Gaya auditorium ini sering kali dipakai ketika guru mengajar atau seseorang memberi presentasi ke kelas.
·         Gaya tatap muka (face to face)
Murid saling menghadap. Gangguan dari murid lain akan lebih besar pada susunan ini ketimbang pada susunan auditorial.
·         Gaya off-set
Sejumlah murid biasanya tiga atau empat anak duduk di bangku tetapi tidak duduk berhadapan satu sama lain. Gangguan dalam gaya ini lebih sedikit ketimbang gaya tatap muka dan dapat efektif untuk kegiatan pembelajaran kooperatif.
·         Gaya seminar
Sejumlah murid (10 atau lebih) duduk disusunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U. Ini terutama efektif ketika Anda ingin agar murid berbicara satu sama lain atau bercakap-cakap dengan Anda.
·         Gaya klaster
Sejumlah murid biasanya empat sampai delapan anak bekerja dalam kelompok kecil. Susunan ini terutama efektif untuk aktivitas pembelajaran kooperatif.

III
OBJEK PENELITIAN

            Objek Penelitian yang kami teliti adalah para murid SMP Harapan 1 Medan Kelas VIIIB dan VIIA dan kami juga melakukan observasi pada daerah-daerah di dekat lokasi SMP Harapan 1 Medan.
IV
JADWAL PENELITIAN

Hari                 : Selasa
Tanggal           : 4 Juni 2013
Anggota          :
1.      Kurnia Boby Safarov Hasibuan (121301054)
2.      Natassa Febrini (121301080)
3.      Riyan Kurnia Aswari (121301060)
4.      Suci Aripurnami (121301094)
5.      Anissa Avinda Ahmad (121301102)

V
PELAKSANAAN
NO
WAKTU
KETERANGAN
1
08.00 WIB
Seluruh Anggota kelompok berkumpul di tempat
2
08.15 WIB
Mengkonfirmasi kepada pihak yang terkait untuk melakukan observasi
3
08.50 WIB
Anggota kelompok dibagi 2
Regu pertama melakukan observasi di kelas VIIIB
Regu kedua melakukan observasi di kelas VIIA
Waktu observasi di dalam kelas 40 menit (1 jam mata pelajaran)
4
09.30 WIB
Selesai melakukan observasi di kelas
5
09.40 WIB
Melakukan observasi di sekitar lokasi SMP Harapan 1 Medan
6
10.30 WIB
Selesai melakukan observasi di lingkungan sekolah
7
11.00 WIB
Melakukan evaluasi terhadap hasil observasi


                                                 SUASANA DIDALAM KELAS



VI
LAPORAN PENELITIAN

1.    Di Luar Kelas
SMP Harapan 1 Medan memiliki kondisi gedung yang bagus dan fasilitas-fasilitas penunjang bagi pembelajarannya juga sangat baik dan bagus.
Namun kondisi SMP yang bergabung dengan TK, SD, SMA dan Perguruan Tinggi cukup menghasilkan polusi suara di daerah sekolah.
2.    Di Dalam Kelas
a.       Fasilitas :
·         Air Conditioner
·         Lampu
·         Proyektor
·         Speaker
·         Laptop
b.      Metode Pembelajaran : Teacher Center Learning
Pada saat pembelajaran berlangsung di kelas guru menjelaskan dengan metode ceramah dan diskusi. Panduan yang dipakai adalah dari file yang dimiliki oleh guru dan di jelaskan oleh guru. Setelah itu guru memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa-siswanya. Namun, di kelas lain kebanyakan para murid dan guru memakai waktu belajarnya dengan mengerjakan soal-soal karena akan mendekati ujian. Selain itu materi juga sudah di pelajari semua.
c.   Gaya Penataan
Gaya Auditorium Tradisional, dimana penataan ini membatasi kontak murid tatap muka dan guru bebas bergerak kemana saja. Gaya auditorium ini sering kali dipakai ketika guru mengajar atau seseorang memberi presentasi ke kelas. Gaya penataan ini yang digunakan didalam kelas yang telah kami observasi.

VII
RANGKUMAN HASIL OBSERVASI

1.    Rangkuman Menurut Kelompok
·      Proses pembelajaran menggunakan metode ceramah dan diskusi dan juga terdapat reinforcement bagi siswa-siswa yang aktif. Hal ini agar siswa lebih senang dan fokus dalam belajar. Hal ini sesuai dengan teori operan conditioning.
·      Orientasi belajar yang dilakukan dikelas ditentukan oleh setiap guru yang mengajar, namun kebanyakan guru masih menggunakan metode teacher learning centered (TCL) di mana guru sebagai pengontrol dan fasilisator yang memberikan seluruh materi sedangkan siswanya hanya menerima materi. Seperti di kelas biologi, guru hanya memberikan penjelasan sedangkan siswanya hanya menerima pembelajaran. Namun,ada beberapa guru yang mulai mnerapkan metode student learning centered (SCL) di mana murid berusaha sendiri untuk memperoleh pembelajaran sedangkan guru hanya sebagai fasilitator.
·      Berdasarkan hasil wawancara kami, kami menyimpulkan bahwa murid-murid termotivasi tinggi dengan adanya konsep e-learning yang dilakukan oleh beberapa guru.
·      Bedasarkan desain kelas yang ada, kondisinya sangat menungjang pembelajaran yang efektif bagi para murid-murid dan perlengkapan yang ada untuk membantu proses pembelajaran mudah di akses, sehingga tidak menganggu kenyamanan siswa ketika belajar.

2.    Testimoni

1.        KURNIA BOBY SAFAROV HASIBUAN ( 12-054 )
Menurut pengamatan saya, berbagai sarana dan prasarana maupun metode-metode yang terdapat di SMP Harapan 1 Medan sangat bagus dalam menunjang proses pembelajaran bagi para siswa-siswa SMP Harapan 1 Medan. Sehingga, sudah sewajarnya para putra-putri bangsa yang menimba ilmu si SMP Harapan 1 Medan memiliki intelektualitas ataupun integritas di atas rata-rata.
2.        RIYAN KURNIA ASWARI( 12-060 )
Menurut saya, observasi yang dilakukan sangat bermanfaat bagi kami, karena menurut saya, observasi yang kami lakukan lebih membuat pemahaman kami tentang teori-teori yang sebelumnya kami perlajari menjadi lebih baik.dan juga mengenai konsep e-learning yang ada di SMP Harapan 1 Medan sangat baik peranannya dalam membantu para siswa-siswi untuk memahami teori-teori yang dipelajarinya.
3.        NATASSA FEBRINI (121301080)
Menurut pendapat saya, observasi yang kami lakukan di SMP HARAPAN 1 MEDAN sangat bermanfaat terutama bagi saya, karena menurut saya, konsep belajar yang langsung terjun ke lapangan itu lebih baik dan dapat menambah wawasan kita secara pribadi. Sehingga pemahaman untuk konsep dan teori belajar jauh lebih baik. Menurut saya, penggunaan konsep e-learning ini baik bagi proses pembelajaran di sekolah, karena siswa akan lebih mudah mencari informasi-informasi baru dengan adanya koneksi internet. Konsep e-learning ini dapat meningkatkan motivasi siswa-siswi dan pemahan mereka jauh lebih mudah dan lebih baik. Disamping itu, fasilitas yang sangat mendukung membuat para siswa-siswi senang belajar lebih giat dan sekolah yayasan pendidikan harapan  memperlihatkan akreditas yang tinggi sehingga siswa-siswi yang ingin memasuki sekolah tersebut diharapkan dapat memiliki prestasi yang baik.
4.        SUCI ARIPURNAMI (121301094)
Setelah saya mengikuti observasi di SMP HARAPAN1 Medan, menurut saya pembelajaran sistem e-learning sudah sepenuhnya menggunakan pembelajaran tersebut. Karena konsep e-learning sangat memudahkan bagi siswa-siswi untuk belajar dan dapat menambah motivasi mereka untuk mencari bahan-bahan yang diperlukan.
5.        ANISSA AVINDA AHMAD (121301102)

Ketika saya memasuki sekolah yang saya observasi yaitu SMP HARAPAN 1 MEDAN, saya langsung dapat melihat peranan teknologi dalam proses pembelajaran di sekolah tersebut. Sebab, di beberapa kelas yang saya lewati, gurunya menerangkan materi pembelajaran dengan menggunakan proyektor di mana proyektor adalah salah satu teknologi yang mendukung terjadinya proses belajar e-learning. Tetapi dikelas yang saya masuki tidak menggunakan proyektor, hanya membahas soal-soal saja. Dikarenakan masa ujian yang sebentar lagi dihadapi oleh siswa siswi.




Minggu, 19 Mei 2013

PRIVATE SPEECH


Private Speech menurut Piaget dan Vygotsky
Berbicara dengan keras kepada siri sendiri tanpa ada niat untuk berkomunikasi dengan orang lain adalah normal dalam masa kanak-kanak, terhitung sekitar 20 sampai 50% dari yang diucapkan si anak (Berk, 1986). Anak usia 3 sampai 4 tahun terlibat dalam “crib talk” (percakapan yang meniru), bermain dengan suara dan kata. Anak berusia 4 sampai 5 tahun menggunakan berbicara kepada diri sendiri sebagai cara untuk mengekspresikan fantasi dan emosi mereka (Berk, 1992; Small, 1990). Anak yang lebih tua mengucapkan apa yang dipikirkannya atau berkomat-kamit dengan suara yang sangat berat. Piaget melihat private speech sebagai sebuah tanda dari ketidakdewasaan kognitif karena anak-anak egosentris. Vygotsky tidak menganggap bahwa private speech terjadi karena anak-anak yang egosentris, melainkan sebagai bentuk khusus dari komunikasi: percakapan dengan diri sendiri yang merupakan sebuah transisi menuju prilaku pengendalian internal.

Menurut Vygotsky, fungsi mental tingkat tinggi biasanya ada dalam percakapan atau komunikasi dan kerja sama  di antara individu-individu (proses sosialisasi) sebelum akhirnya itu berada dalam diri individu (internalisasi). Oleh karena itu, pada saat seseorang berbagi pengetahuan dengan orang lain, dan akhirnya pengetahuan itu menjadi pengetahuan personal, disebut dengan private speech. Di sini, Vygotsky ingin menjelaskan bahwa adanya kesadaran sebagai akhir dari sosialisasi tersebut. Dalam belajar bahasa, misalnya ucapan pertama kita dengan orang lain adalah bertujuan untuk komunikasi, akan tetapi sekali kita menguasainya, ucapan atau bahasa itu akan terinternalisasi dalam diri kita dan menjadi inner speech atauprivate speech. Private speech ini dapat diamati saat seorang anak sering berbicara dengan dirinya sendiri, terutama jika ia dihadapkan dengan tugas-tugas sulit. Namun demikian, sebagaimana studi-studi dilakukan, anak-anak yang sering menggunakan private speechketika menghadapi tugas-tugas yang kompleks ini lebih efektif memecahkan tugas-tugas daripada anak-anak yang kurang menggunakan private speech.
Ide dasar lain dari teori belajar Vygotsky adalah scaffolding. Scaffolding adalah memberikan dukungan dan bantuan kepada seorang anak yang sedang pada awal belajar, kemudian sedikit demi sedikit mengurangi dukungan atau bantuan tesebut setelah anak mampu memecahkan problem dari tugas yang dihadapinya. Ini ditujukan agar anak dapat belajar mandiri (Baharuddin dan Wahyuni, 2010).

Berbeda dari Piaget, Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan kognitif sangat terkait dengan masukan dari orang-orang lain. Namun sama seperti Piaget, Vygotsky percaya bahwa perolehan sistem-sistem tanda terjadi dalam urutan langkah-langkah tetap yang sama untuk semua anak.

Menurut Lev Vygotsky, perkembangan bahasa sangatlah penting dalam perkembangan kognitif anak. Berbeda sekali dengan pendapat Piaget yang mengatakan bahwa bahasa baru muncul ketika anak sudah mencapai tahap perkembangan yang sudah lebih maju. Sehingga menurut Piaget, perkembangan kognitif mempengaruhi perkembangan bahasa anak.
Private speech, menurut Vygotsky adalah salah satu cara yang dapat membantu perkembangan bahasa anak untuk. Private speech adalah komunikasi yang dilakukan dengan diri sendiri. Biasanya private speech ini dilakukan dengan 2 cara, secara internal yaitu berbicara dalam hati dan tanpa bersuara, atau secara eksternal yaitu berbicara dengan suara. Private speechjuga merupakan salah satu bentuk penggunaan bahasa yang bertujuan untuk mengembangkan anak menjadi pribadi yang mandiri.
Private speech yang dikemukakan oleh Vygotsky ini memiliki banyak sekali kegunaan. Seorang anak yang sering menggunakan private speech dalam perkembangan bahasanya, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih pandai berkomunikasi dan berinteraksi secara social dibandingkan dengan anak yang sedikit bahkan tidak pernah menggunakanprivate speech. Sehingga bisa dikatakan bahwa private speech merupakan transisi awal untk menjadi seseorang yang komunikatif secara social. Selain itu, ternyata private speech juga memiliki peran dalam bagaimana harus menata perilaku. Private speech juga mampu membantu anak dalam membentuk pribadi yang penuh perhatian serta memiliki kinerja yang bagus.
Private speech juga mampu digunakan sebagai alat dalam menyelesaikan suatu masalah. Hal ini tampak pada anak dalam tahap kognitif pra-operasional, dimana ketika anak yang berusaha memikirkan penyelesaian masalah yang dihadapinya dengan menggunakan suara keras. Namun, ketika anak telah memasuki tahap operasional konkrit, private speech tidak terdengar lagi.

Bahasa dan pemikiran. Vygotsky berkeyakinan bahwa anak menggunakan bahasa bukan hanya untuk berkomunkikasi saja, melainkan juga untuk merencanakan, memonitor perilaku mereka dengan caranya sendiri. Penggunaan bahasa untuk mengatur diri sendiri, dinamakan pembicaraan batin (inner speech) atau berbicara sendiri (private speech). Menurut piaget, berbicara sendiri bersifat egosentris dan tidak dewasa tetapi menurut vygotsky adalah alat penting bagi pemikiran selama mas kanak kanak. Tatkala anak sering meakukan pembicaraan batin, ia justru akan lebih kompeten secara social. Karena anak menginternalisasikan pembicaraan egosentrisnya dalam bentuk pembicaraan batin kemudian pembicaraan batin ini menjadi pemikiran mereka. Oleh karena itu pembicaraa batin dapat mempresentasikan transisi awal untuk menjadi lebih komuniktif secara social.

Jean Piaget
Piaget  mengatakan bahwa bahasa baru muncul ketika anak sudah mencapai tahap perkembangan yang sudah lebih maju. Sehingga menurut Piaget, perkembangan kognitif mempengaruhi perkembangan bahasa anak. Piaget tidak memberikan penekanan terhadap pentingnya bahasa dalam perkembangan kognitif anak. Bagi Piaget bukan perkembangan bahasa pertama yang paling fundamental dalam perkembangan kognitif melainkan aktivitas atau action.
Menurut Piaget, ada dua kategori berbahasa yang utama pada anak-anak pra-operasional (2-7 tahun), yaitu :
a.    Berbicara Egosentris (Egocentric Speech)
Berbicara egosentris adalah ketika anak-anak tidak peduli kepada siapa mereka berbicara atau apakah ada yang mendengarkan atau tidak.
Ciri-cirinya yaitu :
Pengulangan atau Repetisi, yang digunakan anak-anak semata-mata karena ingin mengatakan sesuatu atau senang berbicara, serta tidak ada karakter lain dalam pembicaraannya.
Monolog, yaitu ketika anak-anak berbicara pada diri mereka sendiri seolah-olah mereka sedang berfikir dengan mengucapkannnya keras-keras.
Monolog Kolektif, yaitu ketika ada anak-anak lain di dekatnya tetapi anak-anak itu juga tidak mendengarkan apa yang ia katakan.
b.    Berbicara Sosial (Socialized Speech)
Berbicara sosial adalah ketika anak-anak saling bertukar pikiran satu sama lain, mengkritisi satu sama lain, bertanya, menjawab, dan bahkan memerintah atau mengancam.
Pandangan vygotsky menentang gagasan piaget tentang bahasa dan pemikiran. Vygotsky mengatakan bahwa bahasa, bahkan dalam bentuknya yang paling awal sekalipun, berbasis social, sedangkan piaget lebih menganggap pembicaraan anak sebagai nonsosial dan egosentris. Menurut vygotsky, ketika anak kecil bicara kepada dirinya sendiri, mereka menggunakan bahasa untuk mengatur perilaku mereka sendiri, sedangkan piaget percaya bahwa kegiatan bicara dengan diri sendiri itu mencerminkan ketidakdewasaan (immaturity). Para periset menemukan bukti yang mendukung pandangan vygotsky tentang peran positif dari private speech dalam perkembangan anak (Winsler,Diaz & Montero, 1997).


ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


Definisi Anak  Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan/ penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam proses pertumbuhkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusia sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata “Anak Luar Biasa (ALB)” yang menandakan adanya kelainan khusus. Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.

 Jenis Dan Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapat perhatian guru antara lain :

a.Tunagrahita (Mental retardation)

Ada beberapa definisi dari tunagrahita, antara lain:

American Association on Mental Deficiency (AAMD) dalam B3PTKSM, (p. 20) mendefinisikan retardasi mental/tunagrahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes individual; yang muncul sebelum usia 16 tahun; dan menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.
Japan League for Mentally Retarded (1992: p.22) dalam B3PTKSM (p. 20-22), mendefinisikan retardasi mental/tunagrahita ialah fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 ke bawah berdasarkan tes intelegensi baku; kekurangan dalam perilaku adaptif; dan terjadi pada masa perkembangan, yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.
The New Zealand Society for the Intellectually Handicapped menyatakan tentang tunagrahita adalah bahwa seseorang dikatakan tunagrahita apabila kecerdasannya jelas-jelas di bawah rata-rata dan berlangsung pada masa perkembangan serta terhambat dalam adaptasi tingkah laku terhadap lingkungan sosialnya.
Definisi tunagrahita yang dipublikasikan oleh American Association on Mental Retardation (AAMR). Di awal tahun 60-an, tunagrahita merujuk pada keterbatasan fungsi intelektual umum dan keterbatasan pada keterampilan adaptif. Keterampilan adaptif mencakup area : komunikasi, merawat diri, home living, keterampilan sosial, bermasyarakat, mengontrol diri, functional academics, waktu luang, dan kerja. Menurut definisi ini, ketunagrahitaan muncul sebelum usia 18 tahun.
Menurut WHO seorang tunagrahita memiliki dua hal yang esensial yaitu fungsi intelektual secara nyata di bawah rata-rata dan adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tututan yang berlaku dalam masyarakat.
Adapun cara mengidentifikasi seorang anak termasuk tunagrahita yaitu melalui beberapa indikasi sebagai berikut:

Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar,
Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
Perkembangan bicara/bahasa terlambat
Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan (pandangan kosong),
Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali),
Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler).
b. Tunalaras (Emotional or behavioral disorder)
Nilai standarnya 4
Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. individu tunalaras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.

Menurut Eli M. Bower (1981), anak dengan hambatan emosional atau kaelainan perilaku, apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari lima komponen berikut:

Tidak mampu belajar bukan disebabkan karena factor intelektual, sensori atau kesehatan.
Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guru-guru.
Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya.
Secara umum mereka selalu dalam keadaan pervasive dan tidak menggembirakan atau depresi.
Bertendensi kea rah symptoms fisik: merasa sakit atau ketakutan berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah.
Anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku juga bisa diidentifikasi melalui indikasi berikut:

Bersikap membangkang,
Mudah terangsang emosinya,
Sering melakukan tindakan aggresif,
Sering bertindak melanggar norma social/norma susila/hukum.
c. Tunarungu Wicara (Communication disorder and deafness)
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah:

Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB),
Gangguan pendengaran ringan(41-55dB),
Gangguan pendengaran sedang(56-70dB),
Gangguan pendengaran berat(71-90dB),
Gangguan pendengaran ekstrim/tuli(di atas 91dB).
Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.

Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan pendengaran:

Tidak mampu mendengar,
Terlambat perkembangan bahasa,
Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,
Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara,
Ucapan kata tidak jelas,
Kualitas suara aneh/monoton,
Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar,
Banyak perhatian terhadap getaran,
Keluar nanah dari kedua telinga,
Terdapat kelainan organis telinga.
Nilai standarnya 7.
d. Tunanetra (Partially seing and legally blind)
Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium).

Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan penglihatan:

Tidak mampu melihat,
Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter,
Kerusakan nyata pada kedua bola mata,
Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan,
Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya,
Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering,
Mata bergoyang terus.
Nilai standarnya adalah 6, artinya bila anak mengalami minimal 6 gejala di atas, maka anak termasuk tunanetra.
e. Tunadaksa (physical disability)
Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.

Berikut identifikasi anak yang mengalami kelainan anggota tubuh tubuh/gerak tubuh

Anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh,
Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali),
Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa,
Terdapat cacat pada alat gerak,
Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam,
Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal,
Hiperaktif/tidak dapat tenang.
Nilai standarnya 5.
f. Tunaganda (Multiple handicapped)
Menurut Johnston & Magrab, tunaganda adalah mereka yang mempunyai kelainan perkembangan mencakup kelompok yang mempunyai hambatan-hambatan perkembangan neurologis yang disebabkan oleh satu atau dua kombinasi kelainan dalam kemampuan seperti intelegensi, gerak, bahasa, atau hubungan pribadi di masyarakat.

Walker (1975) berpendapat mengenai tunaganda sebagai berikut:

Seseorang dengan dua hambatan yang masing-masing memerlukan layanan-layanan pendidikan khusus.
Seseorang dengan hambatan-hambatan ganda yang memerlukan layanan teknologi.
Seseorang dengan hambatan-hambatan yang memerlukan modifikasi khusus.
g. Kesulitan Belajar (Learning disabilities)
Anak dengan kesulitan belajar adalah individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat memengaruhi kemampuan berfikir, membaca, berhitung, berbicara yang disebabkan karena gangguan persepsi, brain injury, disfungsi minimal otak, dislexia, dan afasia perkembangan. individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik persepsi-motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan ruang dan keterlambatan perkembangan konsep.

Berikut adalah karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar dalam membaca, menulis dan berhitung:

Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)
Perkembangan kemampuan membaca terlambat,
Kemampuan memahami isi bacaan rendah,
Kalau membaca sering banyak kesalahan
Nilai standarnya 3.
Anak yang mengalami kesulitan menulis (disgrafia)
Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai,
Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya,
Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca,
Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang,
Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
Nilai standarnya 4.
Anak yang mengalami kesulitan berhitung (diskalkula)
Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =
Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan,
Sering salah membilang dengan urut,
Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya,
Sulit membedakan bangun-bangun geometri.
Nilai standarnya 4.
h. Anak Berbakat (Giftedness and special talents)
Menurut Milgram, R.M (1991:10), anak berbakat adalah mereka yang mempunyai skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (Terman, 1925), mempunyai kreativitas tinggi (Guilford, 1956), kemampuan memimpin dan kemampuan dalam seni drama, seni tari dan seni rupa (Marlan, 1972).

Anak berbakat mempunyai empat kategori, sebagai berikut:

Mempunyai kemampuan intelektual atau intelegensi yang menyeluruh, mengacu pada kemampuan berpikir secara abstrak dan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan masuk akal.
Kemampuan intelektual khusus, mengacu pada kemampuan yang berbeda dalam matematika, bahasa asing, music, atau ilmu pengetahuan alam.
Berpikir kreatif atau berpikir murni menyeluruh. Pada umumnya mampu berpikir untuk menyelesaikan masalah yang tidak umum dan memerlukan pemikiran tinggi.
Mempunyai bakat kreatif khusus, bersifat orisinil dan berbeda dengan yang lain.
Dari keempat kategori di atas, maka anak berbakat adalah mereka yang mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul dalam segi intelektual, teknik, estetika, social, fisik (Freemen, J. 1975:120), akademik, psikomotor dan psikososial (Sisk,1987 dalam Amin, M. 1996:3).

Berikut identifikasi anak berbakat atau anak yang memilki kecerdasan dan kemampuan yang luar biasa:

Membaca pada usia lebih muda,
Membaca lebih cepat dan lebih banyak,
Memiliki perbendaharaan kata yang luas,
Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat,
Mempunayi minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa,
Mempunyai inisiatif dan dapat berkeja sendiri,
Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal,
Memberi jawaban-jawaban yang baik,
Dapat memberikan banyak gagasan,
Luwes dalam berpikir,
Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan,
Mempunyai pengamatan yang tajam,
m.  Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap

tugas atau bidang yang diminati,
Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri,
Senang mencoba hal-hal baru,
Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi,
Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah,
Cepat menangkap hubungan sebabakibat,
Berperilaku terarah pada tujuan,
Mempunyai daya imajinasi yang kuat,
Mempunyai banyak kegemaran (hobi),
w.  Mempunyai daya ingat yang kuat,

Tidak cepat puas dengan prestasinya,
Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),
Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.
i. Anak Autistik
Nilai standarnya 18.
Autism Syndrome merupakan kelainan yang disebabkan adanya hambatan pada ketidakmampuan berbahasa yang diakibatkan oleh kerusakan pada otak. Gejala-gejala autism menurut Delay & Deinaker (1952) dan Marholin & Philips (1976) antara lain:

Senang tidur bermalas-malasan atau duduk menyendiri dengan tampang acuh, muka pucat, dan mata sayu dan selalu memandang ke bawah.
Selalu diam sepanjang waktu.
Jika ada pertanyaan terhadapnya, jawabannya sangat pelan dengan nada monoton, kemudian dengan suara yang aneh akan menceritakan dirinya dengan beberapa kata kemudian diam menyendiri lagi.
Tidak pernah bertanya, tidak menunjukkan rasa takut dan tidak menyenangi sekelilingnya.
Tidak tampak ceria.
Tidak peduli terhadap lingkungannya, kecuali terhadap benda yang disukainya.
Secara umum anak autis mengalami kelainan dalam berbicara, kelainan fungsi saraf dan intelektual, Hal tersebut dapat terlihat dengan adanya keganjilan perilaku dan ketidakmampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

j. Hyperactive (Attention Deficit Disorder with Hyperactive)
Hyperactive bukan merupakan penyakit tetapi suatu gejala atau symptoms. (Batshaw & Perret, 1986: 261).symptoms terjadi disebabkan oleh factor-faktor brain damage, an emotional disturbance, a hearing deficit or mental retardaction. Dewasa ini banyak kalangan medis masih menyebut anak hiperaktif dengan istilah attention deficit disorder (ADHD) (Solek, P. 2004:4)

3. Strategi Pembelajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu: ABK temporer (sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK temporer meliputi: anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD (Attention Deficiency and Hiperactivity Disorders), Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain.

Untuk menangani ABK tersebut dalam setting pendidikan inklusif di Indonesia, tentu memerlukan strategi khusus. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa: sekolah inklusi[13] adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa, maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima, menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya, maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Selanjutnya, Staub dan Peck (1995) menyatakan bahwa: pendidikan inklusi[14] adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler. Hal ini menunjukkan bahwa kelas reguler merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak berkelainan, apapun jenis kelainannya dan bagaimanapun gradasinya. Sementara itu, Sapon-Shevin (O’Neil, 1995) menyatakan bahwa pendidikan inklusi sebagai sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Oleh karena itu, ditekankan adanya perombakan sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, sehingga sumber belajar menjadi memadai dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya.

Melalui pendidikan inklusi, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya (Freiberg, 1995). Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas.

Dalam hal ini, ada empat strategi pokok yang diterapkan pemerintah, yaitu: peraturan perundang-undangan yang menyatakan jaminan kepada setiap warga negara Indonesia (termasuk ABK temporer dan permanen) untuk memperoleh pelayanan pendidikan, memasukkan aspek fleksibilitas dan aksesibilitas ke dalam sistem pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Selain itu, menerapkan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan mengoptimalkan peranan guru.

Di bawah ini beberapa strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus:

1. Strategi pembelajaran bagi anak tunanetra
Strategi pembelajaran pada dasarnya adalah pendayagunaan secara tepat dan optimal dari semua komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran yang meliputi tujuan, materi pelajaran, media, metode, siswa, guru, lingkungan belajar dan evaluasi sehingga proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efesien. Beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan strategi pembelajaran , antara lain:

Berdasarkan pengolahan pesan terdapat dua strategi yaitu strategi pembelajaran deduktif dan induktf.
Berdasarkan pihak pengolah pesan yaitu strategi pembelajaran ekspositorik dan heuristic.
Berdasarkan pengaturan guru yaitu strategi pembelajaran dengan seorang guru dan beregu.
Berdasarkan jumlah siswa yaitu strategi klasikal, kelompok kecil dan individual.
Beradsarkan interaksi guru dan siswa yaitu strategi tatap muka, dan melalui media.
Selain strategi yang telah disebutkan di atas, ada strategi lain yang dapat diterapkan yaitu strategi individualisasi, kooperatif dan modifikasi perilaku.

2. Strategi pembelajaran bagi anak berbakat
Strategi pembelajaran yang sesuai denagan kebutuhan anak berbakat akan mendorong anak tersebut untuk berprestasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam meneentukan strategi pembelajaran adalah :

Pembelajaran harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas.
Tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual semata tetapi juga mengembangkan kecerdasan emosional.
Berorientasi pada modifikasi proses, content dan produk.
Model-model layanan yang bias diberikan pada anak berbakat yaitu model layanan perkembangan kognitif-afektif, nilai, moral, kreativitas dan bidang khusus.

3. Strategi pembelajaran bagi anak tunagrahita
Strtegi pembelajaran anak tunagrahita ringan yang belajar di sekolah umum akan berbeda dengan strategi anak tunagrahita yang belajar di sekolah luar biasa. Strategi yang dapat digunakan dalam mengajar anak tunagrahita antara lain;

Strategi pembelajaran yang diindividualisasikan
Strategi kooperatif
Strategi modifikasi tingkah laku
4. Strategi pembelajaran bagi anak tunadaksa
Strategi yang bias diterapkan bagi anak tunadaksa yaitu melalui pengorganisasian tempat pendidikan, sebagai berikut:

Pendidikan integrasi (terpadu)
Pendidikan segresi (terpisah)
Penataan lingkungan belajar
5. Strategi pembelajaran bagi anak tunalaras
Untuk memberikan layanan kepada anak tunalaras, Kauffman (1985) mengemukakan model-model pendekatan sebagai berikut;

Model biogenetic
Model behavioral/tingkah laku
Model psikodinamika
Model ekologis
6. Strategi pembelajaran bagi anak dengan kesulitan belajar
Anak berkesulitan belajar membaca yaitu melalui program delivery dan remedial teaching
Anak berkesulitan belajar menulis yaitu melalui remedial sesuai dengan tingkat kesalahan.
Anak berkesulitan belajar berhitung yaitu melalui program remidi yang sistematis sesuai dengan urutan dari tingkat konkret, semi konkret dan tingkat abstrak.
7. Strategi pembelajaran bagi anak tunarungu
Strategi yang biasa digunakan untuk anak tunarungu antara lain: strategi deduktif, induktif, heuristic, ekspositorik, klasikal, kelompok, individual, kooperatif dan modifikasi perilaku.